ASK ME.

If you want the copy of my stories, just ask me through my Facebook. God bless you.

Tuesday, February 21, 2012

Imbalance to Perfectly Balance (part 4)

“I’m home,” aku berjalan melewati ruang tamu menuju kamarku sambil mengayun-ayunkan tas punggungku sampai menyentuh lantai.
Tidak ada yang membalas sapaanku. Aku berhenti di depan pintu kamarku dan meletakkan tasku disana. Sementara itu aku bergerak menuju kamar papa dan mama untuk memeriksa apakah mereka ada disana.
“Mah, Pah,” aku mengetok-ketok pintu kamar mereka. Tidak ada yang menjawab. “Papa, Mama! Udah tidur?”
Tidak ada jawaban. Sepertinya iya. Mereka sudah tertidur. Tapi kenapa Mbak Sundari juga tidak muncul untuk menyapaku seperti biasanya?
Aku pun berjalan menuju kamar pembantu dan celingukan di sepanjang jalan menuju kesana. Mungkin Mbak Sun masih di luar kamarnya. Aku ingin minum susu malam ini. Rasanya perutku lapar sekali. Jadi kupikir, segelas susu akan mengganjal perutku malam ini dan pastinya tidak membuatku gemuk. That's the most important.
Di depan kamar Mbak Sun ada sebuah jendela kecil. Dari situ aku mengintip kamarnya untuk memeriksa apakah dia masih terjaga.
“Tidur juga dia,” aku menggaruk punggungku. Agak gatal rasanya. Lalu menarik nafas dalam. “Kenapa semua orang cepet banget ya tidurnya hari ini? Apa tadi mereka habis ngelakuin sesuatu yang bikin capek banget, jadi mereka tidur pules? Masih jam setengah sepuluh udah tidur semua. Hah. Ya udah aku bikin susu anget sendiri.”
Aku melangkah menuju dapur yang jaraknya hanya lima langkah dari kamar Mbak Sun. Dengan baju yang sama tapi dengan penampilan yang sudah agak berantakan, aku membuat segelas susu coklat kesukaanku dan membawanya ke menuju kamar tidurku.
Di depan kamar, aku menyangking tas yang tadi kugeletakkan di situ dan menutup pintu kamarku. Sambil berjalan menuju ranjang, aku meneguk susu coklatku yang masih hangat itu.
“Huh, lumayan ngures tenaga,” kuletakkan gelas berisi susu coklat itu ke atas meja yang ada di sebelah ranjangku. “Tapi seenggaknya aku jadi mudeng sama ajaran dia ke aku. Yah, sebentar lagi aku bakal jadi anak yang membanggakan di bidang akademik! Yes!” Aku mengepalkan telapak tangan kananku di depan wajah.

Aku melirik jam dindingku. Jam 08.25 pagi.
Hari ini seperti biasa, ada jadwal ekstra di kampus. Jadi mungkin aku tidak akan sempat pulang ke rumah untuk mandi, karena aku harus langsung pergi ke rumah─tunggu. Aku hampir lupa kalau Phillip akan menjemputku di rumah. Dan aku belum mengirim alamat rumahku padanya.
Tiffy, you got a text message! Suara hape-ku berbunyi. Ya, aku membuatnya sendiri dengan suaraku dan kuubah dengan software yang ada di laptopku untuk membuatnya seperti suara anak kecil. Dan aku suka itu. Hahah.


Nanti jam 5 tepat aku jemput kamu di rumahmu.
Philip.


“Bisa-bisanya dia bilang gitu? Kan dia belum tahu rumahku,” aku meletakkan hape-ku kembali ke atas meja. “Coba aja kalo kamu bisa nemuin rumahku.” Aku beranjak dari ranjangku dan keluar dari kamar.
“Mama kok nggak tau kamu pulang tadi malem?” suara Mama menghentikan langkahku.
“Iya lah. Orang mama udah tidur semalem,” sahutku.
“Masa? Emang kamu pulang jam berapa?” tanyanya tanpa memandangku karena ia berfokus pada teh yang sedang ia aduk. Itu pasti untuk Papa.
“Aku nyampe disini jam setengah sepuluh, Mah,”
“Malem banget,”
Aku berdecak. “Kan aku belajarnya beneran, Ma sekarang,” sahutku. “Nggak kayak dulu sama bapak itu. Udah bosen, nggak mudeng pula.” Aku menekankan.
Mama tertawa. “Bagus deh kalo anak mama niat belajarnya,” ledeknya.
Aku memanyunkan bibirku. “Yee, itu kan tergantung siapa yang ngajarin aku, Ma. Kalo enak ya aku bisa ngerti pelajarannya,” aku membela diri. “Udah ya ma, aku mau berangkat. Kuliahku mulai jam sembilan.” Aku mencium tangannya.

Kuliah beres hari ini. Jam satu siang, pikiranku membaca jam tanganku.
“Tiffy!” seru seseorang dari arah belakangku.
Aku berpaling.
“Gimana kemarin?” Bu Rini bertanya sambil berjalan mendekatiku.
Aku mengangguk-angguk pelan.
“Maksudnya apa cuman nganggukin kepala?” tanyanya.
Aku menyeringai.
“Tiffy ah. Ditanyain cuman ngangguk, terus nyengir. Maksudnya apa sih?” ia tampak penasaran. Itu memang maksudku. Haha.
“Orangnya ganteng ya bu,” aku memancing emosinya.
“Tiffy,”
“Enak diajak ngobrol lagi,” tambahku.
“Yang penting tuh belajar apa nggak?” Ia sudah terlihat kesal.
“Wah, bu, aku ngabisin waktu hampir tiga jam sama dia cuman untuk belajar!”
Mata Bu Rini membelalak seketika. “Yang bener?” ia tak percaya.
“Hah, Ibu nih, dibilangin malah nggak percaya,” aku mendesis.
“Yah, habisnya ajaib banget gitu lho, Tif,” dia menepuk-nepuk bahuku. Lalu lengan kirinya ia lingkarkan di pinggulku. “Kalo gitu lanjutin ya, Tif. Ibu mau kamu jadi anak yang pinter. Soalnya ibu suka nggak terima kalo temen-temen dosen ibu ngatain kamu tuh cuman modal tenar aja kalo kamu bisa naik tingkat ke semester tiga.”
What? Rasanya hatiku seperti ditusuk panah yang tajam. Ah tidak aku berlebihan. Tapi itu jahat sekali. Mereka berkata seperti itu padaku? Benarkah?
Tapi satu hal yang aku membuatku bersyukur adalah masih ada dosen seperti Bu Rini yang begitu sayang padaku sampai dia mencarikanku seorang pengajar yang bisa mengatasi ketidakpahamanku. Aku baru menyadari hal ini sekarang. Selama ini, di balik ketercerewetannya, dia memiliki hati yang baik sekali padaku. Aku jadi bersalah kalau selama ini aku pernah merasa jengkel karena dia terus memantauku setiap minggu dan memanggilku secara rutin ke ruangannya.
“Bu Rini,” aku memeluknya.
“Heh, heh, jangan disini,” sahutnya. Dia melepaskan dirinya dari pelukanku. “nanti kalo ada Pak Dekan, kita dikira bersekongkol.”
Aku tertawa. “Emangnya kita ngapain bu?” kataku.
“Ya udah, ibu mau lanjut ngajar lagi, kamu pergi deh kemana sana,” kata Bu Rini.
“Wah, wah, ngusir nih ceritanya?”
Dia tertawa. “Iya. Sana,” katanya lalu pergi meninggalkanku.
Dosen tapi kayak temen, thank God I have her, aku bersyukur dalam hati. Dan sekarang aku harus pulang. Aku lebih baik ijin untuk tidak ikut ekstra hari ini. Aku tidak mau merasa capek.
“Tif!” seseorang menahan kakiku untuk menuruni tangga.
Aku berpaling ke arah suara itu. Sierra, anak keturunan Perancis-Kebumen itu. Ya, dia anak yang cantik dan juga pintar. Aku selalu mengambil keuntungan saat bersama dia. Aku belajar banyak tentang fashion saat dia memamerkan apapun yang dia miliki.
“Kenapa?” tanyaku.
“Journalist Press udah nggak bakal ada lagi,” jawabnya. Journalist Press adalah nama Pengembangan Kreativitas Mahasiswa yang aku ikuti dan sering disebut JP.
“Kok bisa?” tanyaku lagi.
Dia mengangkat bahunya. “Yang aku denger ada bentrok antara ketua JP sama salah satu dosen,” ujarnya. “Biar nggak berkepanjangan, JP dibubarin.”
Aku mengangguk-angguk. “Ya udah kalo itu memang jalan yang paling bagus,” kataku santai. Aku memang tidak terlalu suka dengan sistem PKM ini. Itulah kenapa aku merasa tidak nyaman masuk ke PKM ini yang awalnya kukira akan menyenangkan.
“Iya, ya?” Sierra menggigit jari telunjuknya.
“Emang,” sahutku. “Ya udah, Si, aku pulang dulu ya. Bye.”
“Bye,” balasnya.

Imbalance to Perfectly Balance (part 3)

Phillip mengambil sebuah buku dari bawah meja tamu. Sepertinya ia memang sudah merencanakannya sehingga semuanya terlihat sudah sangat dipersiapkan. Satu buku tapi tebal. Wow. Ia pikir aku bisa menyelesaikan satu buku itu dengan cepat?
Rasanya aku ingin mundur melihat buku itu. Tapi aku harus menolak keinginan burukku ini. Aku harus maju. Ya, aku harus maju.
Phillip membuka buku itu. Halaman pertama. Dan itu baru awal bagiku untuk menyelesaikan beratus-ratus halaman setelahnya. Oh God, urgently need help!
“Kupikir, kemampuanmu untuk berbahasa Inggris sempurna,” kata Phillip. “Seharusnya kamu juga bisa dapet nilai bagus dong.”
Tiffany tertawa kecil. “Aku juga nggak tau kenapa,” aku mengangkat kedua telapak tanganku setengah tiang. “Kalau disuruh ngafalin, aku buruk deh.”
“Kalo gitu aku nggak akan ngajarin kamu,”
Aku agak terkejut mendengar perkataannya. “Kenapa?” sergahku. “Aku udah bikin kamu males ya?”
Dia menggeleng. “Aku maunya cerita sama kamu,” ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
Aku memicingkan mataku. Mengisyaratkannya untuk memberitahuku lebih lanjut apa yang ia maksud.
“Itu caraku untuk bikin kamu ngerti isi dari buku setebel ini,”
“Ah, I see,” aku mengangguk-angguk. But wait. “Kamu mau ceritain ke aku seluruh isi buku ini, berarti kamu udah baca seluruhnya dan hafal?”
“Kind of,” sahutnya ringan.
Gubrak! Buku setebal ini bisa dia makan, em, maksudku dia hafalin? None sense. Apa benar dia melakukannya? Berarti orang yang sedang duduk di depanku adalah orang jenius? Tepatnya pemuda blasteran ganteng yang jenius. Oh-Em-Ji!
Tiba-tiba Phillip tertawa terbahak-bahak. “Wajahmu beneran deh lucu banget diliat,” katanya seperti tidak bisa menahan tawanya.
Aku menggaruk-garuk kepalaku. Sepertinya aku tidak sadar bahwa aku telah memunculkan mimik wajah yang aneh. Aku pun menarik nafas dalam. Kena lagi deh aku. Dia mengerjaiku lagi. Bisa-bisanya dia mengerjaiku untuk kedua kalinya dan aku tidak cepat mengerti.
“Aku bercanda, Tiffy,”
Aku tersenyum simpul. Mataku sejenak berputar ke sekeliling ruangan itu dan kemudian kukembalikan pandanganku padanya.
“Ya, ya. Kamu berhasil,” aku memanyunkan bibirku. Yah, setidaknya aku tidak lagi menemui pengajar tua seperti sebelumnya dan akhirnya berakibat buruk bagiku dan baginya. Dampak buruk bagi pengajar privatku adalah dia mengalami stress yang berkepanjangan, mungkin sih, karena aku benar-benar tidak paham apa yang ia ajarkan padaku. Sedangkan dampak buruk bagiku, aku tetap dapat nilai jelek di kampus. Sebenarnya itu bukan dampak buruk. Tapi itu memang tidak ada pengaruhnya bagi nilai akademikku.
“Maaf,” kata Phillip. Dia menyeringai, seperti berharap aku tidak marah padanya.
“Tenang aja, Phil. Aku nggak marah kok,” aku tertawa kecil.
“Beneran?”
Aku mengangguk.
“Tapi kamu nggak seceria tadi,”
Aku mendesis. “Hey, aku kesini untuk belajar, bukan untuk dikerjain,” aku menaikkan nada suaraku. Aku berpura-pura kesal padanya. “Aku tidak tahu apa aku harus bayar kamu kalo kamu kerjaannya bukan ngajarin aku tapi ngerjain aku.”
Phillip pun terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.
“Kena deh,” aku tertawa puas. Akhirnya aku bisa mengerjaimu!
Dia pun ikut tertawa. “Ya, kamu berhasil,” katanya.
“Oh, iya dong. Pasti,”
“Oke, perkenalan kita selesai,” katanya. Ia menyodorkan buku tebal itu padaku. “Sekarang kita belajar.”
Aku menghentikan tawaku seketika. Aku menarik nafas dalam lagi. Baiklah prajurit, bersiaplah karena pertempuran sudah dimulai.
“Jam berapa sekarang?” Phillip mengajukan pertanyaan padaku yang kurasa tidak sesuai dengan perkataannya barusan untuk memulai pembelajaran.
Aku melirik jam tanganku. “Enam tepat,” jawabku.
“Itu tadi, contoh dari Langue,” katanya.
Loh? Dia ternyata dia bener-bener udah mulai ngajarin aku?
“Kalo semisal pertanyaan yang sama itu dateng dari mamamu karena kamu pulang kemaleman, artinya mesti beda,” lanjutnya.
“Ya, pasti maksud mama kok pulang kemaleman? Bukan bener-bener tanya jam,” tambahku.
Phillip menjentikkan jarinya. “Itu dia contoh dari Parole,” katanya. “Jadi Langue itu bahasa yang umum yang nggak punya arti tertentu, tapi kalo Parole bahasa yang punya banyak arti khusus. Kayak yang barusan kamu bilang tadi.”
Oh, aku mengerti! Wow, ini nggak sesulit yang aku bayangkan. Cepat sekali dia membuatku mengerti. Ya, ya. Kurasa aku ingin tahu lebih dalam lagi tentang General Lingustics. Mujizat!
Kemudian Phillip mengajariku lebih banyak lagi hal yang seharusnya sudah aku mengerti dari dulu semenjak aku menginjak semester satu. Dan aku benar-benar tidak merasa bahwa aku sudah menyelesaikan tiga bab dalam waktu kurang dari tiga jam! Entah dia yang hebat atau aku semakin pintar, emm, baiklah aku ralat, dia yang hebat mengajariku, tapi aku benar-benar merasa senang aku mengerti.
“Oke deh, kupikir hari ini cukup,” kata Phillip.
Aku mengangguk. “Aku seneng ternyata aku bisa,” kataku riang. “Aku belum pernah bayangin kalo aku bisa habisin tiga bab.”
Phillip tersenyum.
“Udah malem. Aku harus pulang sekarang,” aku beranjak dari sofa dan berdiri.
“Kamu pulang naik apa? Sama siapa?” tanyanya dengan terperinci.
“Sepeda motor, sendiri,”
“Aku temenin kamu pulang ke rumah kalo gitu,” sahut Phillip setelah mendengar pernyataanku.
“Jangan, nggak usah,” aku mencegahnya. “Aku biasa sendirian kok. Tenang aja. Aku bakalan baik-baik aja.”
“Tapi ini kan udah jam setengah sembilan,” dia masih bersikeras.
“Phillip, aku udah hampir dua puluh tahun ya. Aku bisa jaga diri,” aku juga bersikeras. Dia sepertinya benar-benar tidak mempercayaiku. Atau dia memang peduli padaku? Kenapa pikiranku negatif sekali padanya? Em, aku tidak tahu.
“Oke, sekali ini kamu boleh sendirian,” katanya, “tapi besok mending aku yang ke rumahmu.”
Aku menggeleng. “Itu kan nggak etis. Yang butuh aku, ya yang dateng aku lah,” sahutku.
“Kalo gitu aku jemput kamu di rumahmu,”
Aku menarik nafas dalam. Orang ini benar-benar keras kepala. “Kamu nih,” aku mendesis.
“jadi aku minta nomor hapemu,” lanjutnya.
Aku mengambil hape-ku dan mengirimkan nomorku ke nomornya yang sudah kusimpan di dalam hape-ku. “Udah masuk?” tanyaku.
“Oh, kamu kirim ke nomorku langsung?” tanyanya balik. “Kamu udah nyimpen nomor hapeku ya?”
Aku mengangguk. “Ayo anterin aku keluar rumahmu,” pintaku. “Jangan terlalu lama nahan aku disini.”
Dia menyeringai. Lalu berjalan mendahuluiku dan membuka pintu depan rumahnya untukku.
“Sampai ketemu besok,” kataku.

Imbalance to Perfectly Balance (part 2)


Sore ini aku mengendarai sepeda motorku menuju alamat rumah yang tertera di kartu nama itu. Dengan cepat aku melaju kesana. Dan rupanya tidak sulit untuk mencari alamat ini karena letaknya di dekat jalan raya.
Aku memarkirkan sepeda motorku di depan halaman rumah itu. Saat kubuka helmku, pemandangan rumah yang begitu menyilaukan mata, maksudku bukan dalam arti sebenarnya, rumah ini begitu besar. Bagus banget deh beneran.
“Pak Phillip nih orang kaya apa ya?” aku berdecak kagum. Tapi tiba-tiba kekagumanku seolah sirna layaknya sinar matahari yang menghilang ketika malam tiba. Aku teringat bahwa aku datang ke rumahnya untuk belajar.
Aku berjalan dengan lemas menuju ke pintu rumah itu. Aku menekan bel dan menunggu di depan pintu.
Pintu terbuka dan seorang yang benar-benar bule­ muncul di depanku. Ia tersenyum. Pria tua dan berperawakan tinggi. Oh, tubuhku benar-benar tenggelam dibuatnya.
“Mr. Phillip Montgomery?” aku memastikan.
Pria itu menggelengkan kepalanya.
Aku pun menaikkan alisnya. “I’m sorry, I must be mistaken. It’s not Mr. Montgomery house, right?” aku merasa agak bersalah. Sepertinya aku terlalu percaya diri di awal tadi.
“Yes, this is my house. True,” sahutnya. “But it’s Don. My name is Don Montgomery.”
Aduh makin nggak ngerti deh aku, pikirku dalam hati. Terus sebenernya aku salah apa bener ya? Beneran ini rumahnya ato enggak ya?
“Phillip itu anakku,” kata pria itu dengan aksen yang tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia.
“Oh begitu,” aku mengangguk-angguk. Aku merasa lega. Setidaknya aku datang ke rumah yang benar. Walaupun ujungnya nanti aku akan belajar. Oh tidak.
“Mari masuk ke dalam rumahku,” ia membuka pintu rumahnya lebih lebar dan membiarkanku masuk.
Well, ya rumah ini besar. Sangat elegan. Ah tidak, tidak. Aku tidak bisa memikirkan hal itu. Aku kesini adalah untuk belajar.
“Kau duduk disini, aku akan panggilkan anakku,” kata pria itu lalu pergi meninggalkanku dan berjalan menaiki tangga yang tepat berada di sebelah kananku.
Belum sempat aku mengucapkan terima kasih padanya. Kenapa bapak itu cepet-cepet pergi ya? Baiklah. Aku duduk saja di sofa berwarna coklat muda yang kelihatannya sangat nyaman ini.
Otakku berputar. Apa yang akan kupelajari hari ini? Oh, General Lingustics! Satu pelajaran teori yang sangat berat bagiku. Ah tidak, tidak. Aku tidak boleh membiarkan pikiranku mengalami dilema yang berat. Aku putuskan sore ini aku akan belajar dengan giat. Aku bakal ngalahin kamu, hei kemalasan.
Mataku menelusuri setiap sudut ruangan itu. Berbagai barang etnik Indonesia ada disitu. Mulai yang tergantung di dinding dan yang menghiasi meja di ruang tamu yang cukup besar ini. Sepertinya ukurannya dua kali ukuran kamar tidurku. Oh, aku akan merasa sangat bahagia bila aku memiliki kamar seukuran ini. Tapi kalau ruang tamunya sebesar ini, bagaimana dengan kamar tidurnya? Pasti lebih besar dari ini. Oh, enak sekali sepertinya.
“Hai, apa kamu terlalu lama menunggu?” sebuah suara datang dari sebelah kananku dan berhasil membuyarkan pikiranku yang sudah melayang jauh sekali.
Mataku agak terbelalak. Baiklah, aku jujur, sangat terbelalak saat melihat ─ orang itu pasti Phillip Montgomery ─ dia berjalan mendekatiku.
Aku berdiri. “Enggak kok. Kamu pasti Phillip?” aku mencoba memastikan.
“Bukan,”
“Bukan?” Aduh, siapa lagi ini? pikirku.
Ia tertawa. “Ya, aku Phillip,” sahutnya. “Silakan duduk.”
Sambil duduk aku tersenyum padanya. Tersenyum aneh mungkin, karena aku sepertinya berhasil diperdayanya untuk pertama kali. Setidaknya, pencarianku telah berakhir sekarang. Orang yang kucari sudah ada di depanku. Dia ganteng, tapi tetap saja, pelajaran teori mengalahkan kegantengannya.
“Kamu mau minum apa?” tanya pemuda yang sepertinya blasteran itu.
“Air putih cukup,”
“Gimana kalo teh atau sirup?”
Aku menggeleng. “Aku lebih suka air putih kok,” jawabku.
“Oke deh,” katanya. Dan tiba-tiba bak di dalam film wanita paruh baya yang sepertinya adalah seorang pembantu rumah tangga datang ke hadapannya tanpa dipanggil. “Mbak, minta tolong ambilin air putih buat temenku ya.”
“Baik, tuan,” kata wanita itu. Lalu pergi.
Phillip mengalihkan pandangannya kembali kepadaku. “Bu Rini udah telepon aku tentang kamu,” ia memulai percakapan lebih dalam.
Aduh, gimana ini? Mesti aku bakalan dinilai buruk banget sama Phillip. Mesti Bu Rini udah cerita tentang keadaanku.
“Ya, kamu pasti udah tau kan alasan kenapa aku dateng kesini?”
Dia mengangguk. “Kamu kan butuh bantuan belajar English Theory kan?” katanya.
“Aku yakin kamu tau lebih dari itu,” aku memutuskan ingin jujur padanya. Mungkin ini akan membuatku lebih mudah untuk bangkit dari keterpurukanku dalam nilai-nilai teoriku.
“Lebih dari itu, apa ya?” ia mengerutkan dahinya. “Bu Rini cuman bilang kalo kamu butuh bantuan dalam belajar aja.”
“Baiklah,” sepertinya Phillip memang belum tahu. “Nilai-nilai teoriku jelek banget di kampus. Dan kalo aku nggak berhasil, aku harus mengulang semester satu lagi. Itulah kenapa Bu Rini kirim aku kesini.”
Wanita paruh baya itu datang lagi dan membawakan segelas air putih, sesuai permintaanku dan meletakkannya di atas meja.
“Makasi, Bi Lina,” kata Phillip padanya. Sepertinya ia sangat menghormati wanita itu. Mungkin itu juga yang dilakukannya kepada orang lain. Kalau pembantu saja dihormati, pasti orang lain juga ia akan hormati. Great. Aku terkesan.
“Makasi, Bi” kataku juga.
“Oh iya, sebenernya aku belum tahu namamu,” kata Phillip.
“Tiffany Harmony,” aku mengulurkan tanganku dan ia menjabatnya. “Panggil Tiffy aja tapi.”
“Namamu bagus. Kamu suka main musik ya?”
Aku mengangguk.
“Main instrumen atau nyanyi?”
“Aku main gitar dan nyanyi juga,”
“Wow,” ia tampak terkesan. “Oh, aku inget. Aku baca majalah kemarin dan aku kayaknya baca satu artikel yang meliput kamu. Kamu bilang ‘Jangan buang waktu untuk hal yang sia-sia, tapi gunakan setiap kesempatan yang ada untuk mencapai cita-cita’. Aku suka itu.”
Dan wow juga, aku merasa senang karenanya. Aku tersenyum.
“Tapi sama sekali nggak seimbang sama akademikku,” aku menghela nafas dalam. “That’s why I ended up here.”
“Nope, you’ll start from here,” kata-kata Phillip membuatku bangkit. Wow. Aku nggak pernah ngerasa kalo aku bakalan bisa bener-bener pengen bangkit kayak gini sebelumnya.
“Hopefully,” aku tersenyum padanya.

Imbalance to Perfectly Balance (part 1)


“Hi semuanya. Namaku Tiffany Harmony Setiawan,”
Di depan sekian banyak orang yang menunggu aksiku, selalu membuat rasa grogiku makin bertambah. Mereka kelihatan kayak singa. Selalu kayak gitu kalo aku lagi berdiri di depan banyak orang. Huft, enggak, enggak. Aku harus bisa. Aku pasti bisa, pikiranku yang kalut dengan paksa kubuat menjadi tenang.
“Saya akan menampilkan sebuah permainan gitar akustik dengan sebuah lagu yang saya ciptakan,” lanjutku. “Saya berharap para hadirin di tempat ini akan merasa terhibur dengan permainan sederhana saya.” Aku bergerak dari tempat dimana aku berdiri dan duduk di sebuah kursi yang berada di belakangku beberapa langkah. Kemudian aku mengambil gitarku yang berdiri tegak di atas stand gitar dan memposisikannya di pangkuanku.

“Tiffany, gimana sih caranya supaya bisa nyanyi, main gitar, nyiptain lagu yang bagus banget kayak tadi?” seorang wartawan dari sebuah majalah yang terkenal di tanah air dengan beberapa kru yang mendampinginya.
Aku tersenyum padanya. Dalam hatiku sebenarnya aku masih bertanya-tanya bagaimana dan darimana mulanya aku bisa dikenal seperti saat ini. Rasanya hatiku sangat bahagia dan tidak bisa aku ungkapkan. Pokoknya aku seneng banget lah.
“Ditambah lagi prestasimu dalam musik udah banyak banget membuahkan ratusan piala,” tambahnya.
“Aku cuman kembangin aja yang aku punya,” jawabku singkat, lalu tersenyum lagi. Selalu tersenyum karena itu harus. Kamera-kamera itu terus menyorot diriku dan siap untuk mengambil gambarku setiap saat. That’s why aku mestinya harus tampil cantik terus.
“Ah, pasti ada rahasia lain deh,” ia berusaha menggali lebih dalam mengenai diriku, seperti yang aku tahu tentang pekerjaan para wartawan sewaktu aku mempelajari pelajaran Bahasa Indonesia semasih SMA dulu.
Aku menggelengkan kepalaku. “Jangan buang waktu untuk hal yang sia-sia,” kataku dengan raut wajah yang meyakinkan, “tapi gunakan setiap kesempatan yang ada untuk mencapai cita-cita. Itu rahasianya.” Ah, aku bangga sekali saat mengatakannya. Seperti seorang yang bijaksana rasanya. Haha. Makasih Pah, udah sering banget ngomongin ini sampe aku bosen, tapi ternyata berguna banget untuk aku.

Well, ya dalam hal musik aku selalu dibanggakan. Hampir tidak ada orang yang tidak mengenalku tanpa identitas musik. Seolah musik sudah melekat di dalam diriku. Mungkin juga, karena namaku Tiffany Harmony, oke, Harmony, pasti kebanyakan orang juga tahu maksudnya, dan itu mempengaruhi mereka untuk cepat dan dengan mudah mengenali siapa diriku.
Aku memang bangga dan senang karena aku mendapatkan prestasi ini. Tapi tidak dengan bidang akademikku di kampus. It’s so terrible and horrible, keluhku dalam hati. Aku tidak mengerti mengapa prestasiku benar-benar tidak seimbang.
Di satu sisi, musik tentu saja, orang tuaku seolah selalu menyeru-nyerukannya kepada setiap orang yang ditemuinya. Tapi di sisi lain, di bidang akademik, mereka seolah akan menjadi seperti anjing yang berusaha untuk bersembunyi tapi hanya di bagian kepalanya. Tentu saja. Aku dikenal oleh banyak orang dan aku yakin sebentar lagi aku akan semakin dikenal. Aku nggak bermaksud untuk nyombongin diri lho. Dan pada akhirnya mereka akan berkata, Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi sebenarnya hal ini membuatku sangat sedih. Apa yang bisa kulakukan dengan keburukanku yang sepertinya merajalela dalam nilai-nilai akademikku?
“Tiffy, kamu dipanggil tuh sama Bu Rini,” Bonita, teman sekelasku memberitahukan ini padaku saat kami berpapasan di kantin.
“Thanks,” sahutku singkat Bu Rini, wali dosenku, pasti ia akan mengingatkanku tentang nilaiku. Aku tahu betul itu.
Di tengah kerumunan mahasiswa yang sedang mengantri untuk membayar uang kuliah di depan ruang biro keuangan di lantai satu, aku menerobos untuk mencapai tangga. Aku mencoba berjalan perlahan menaiki tangga menuju lantai dua dimana ruang dosen berada. Huft, tapi tetap saja aku akan sampai ke tempat Bu Rini, karena memang itu tujuanku. Dia pasti akan menambah daftar nilai burukku sekaligus menambah beban di pikiranku.
“Tiffy,”
“Iya Bu. Saya tahu pasti ada nilai jelek lagi ya ibu mau beri tahu ke saya. Iya kan?” aku menebak. Aku duduk di sebuah kursi yang ada di depan mejanya.
Bu Rini menggelengkan kepalanya. “Bukan, bukan itu,” tangan kanannnya ia ulurkan kepadaku. “Tapi ini.” Sebuah kartu nama.
“Kartu nama?” aku mengambilnya dari tangan Bu Rini. “Untuk?”
“Gini,” ia memulai. Dan tampaknya ia begitu bersemangat. “Ini solusi buat kamu supaya nilai akademikmu bisa naik. Mumpung ini masih semester satu dan belum ujian. Dia─”
“Bu Rini, aku nggak yakin dia bisa bantu aku,” aku menyela kalimat Bu Rini. “Yang kemarin aja Ibu rekomendasiin ke aku malah jadinya berantakan. Bapak itu malah marah-marah gara-gara aku lama banget ngertinya.”
Bu Rini tertawa. Ia adalah orang yang selalu mendukungku. Mungkin dia satu-satunya orang yang mendukungku dengan tulus, walau nilaiku terhitung buruk. Ralat. Sangat buruk.
“Jangan gitu dong,” katanya. “Kamu harus coba sekali lagi. Aku ngerasa yakin kalo kamu pasti berhasil kali ini.”
Aku tersenyum ragu. “Aku,” ragu untuk melakukannya, kataku dalam hati. Aku sepertinya terlalu lemah dalam teori, “enggak yakin, Bu.”
“Udah lah, coba dulu. Kalo kamu ngerasa nggak mau ya udah. Bilang aja kamu nggak mau lanjutin,” ia meyakinkanku.
“Bu─,”
“Sst,” ia memutus perkataanku. “Cepet keluar. Temui dia nanti sore. Aku udah bilang ke dia.”
Aku memanyunkan bibirku. “Iya iya, Bu,” aku beranjak dari kursi dan keluar dari ruangannya.
Kupandangi kartu nama itu saat aku melangkah keluar. Nama yang tertera disitu, Phillip Montgomery. Aku berhenti di depan ruang dosen dan berpikir sejenak bahwa nama itu begitu...bule. Kan memang iya. Yang kutahu nama sejenis ini hanya dimiliki oleh orang bule atau keturunan lah paling tidak. Dan oh tidak, lebih buruknya kalau ternyata dia adalah orang tua. No, I’m over.
Enggak lah. Aku nggak mau mikir gitu dulu. Aku mau optimis, aku mengepalkan tanganku di depan dada. Kali ini aku ingin maju. Aku ingin menyeimbangkan prestasiku. Mungkin aku sudah membanggakan orang tuaku hanya dengan prestasi musikku. Tapi aku ingin membuat mereka lebih bangga lagi untuk tidak pernah membelaku dengan berkata bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak. Yang akan kubuat tidak seimbang adalah kelebihan dan kekuranganku. Aku mau kelebihanku yang diperbanyak.

Monday, March 14, 2011

Minami Fujita (Chapter 8)

Tommy pun berbicara pada salah satu nelayan yang ada di dekat kapal feri itu dan menyewanya. Lalu, mereka masuk ke dalam kapal itu dan mulai berlayar.
“Asik ya ternyata berlayar tuh,” kata Minami.
“Bener banget,” sahut Tommy. “Ini baru pertama kalinya buat aku.”
“Yang bener aja?”
Tommy mengangguk. “Kan berlayar sendirian tanpa temen nggak enak,” katanya.
Minami tertawa. “Ya ngomong-ngomong sama nahkodanya dong,” sahutnya.
“Tapi kan nggak enak diajak ngomong, orang nggak kenal,” Tommy menyenggol lengan Minami.
“Oh iya ding,” Minami tertawa.
Beberapa waktu lamanya mereka menikmati pemandangan lautan luas dan juga angin yang menerpa tubuh mereka. Lalu Tommy mengeluarkan handphone-nya.
“Ayo kita ambil foto bersama,” kata Tommy.
“Foto?”
Tommy mengangguk. “Ayo sini,” ia menarik Minami mendekat.
Mereka pun saling memotret dan bersenang-senang bersama beberapa waktu lamanya. Benar-benar sukacita yang besar sedang mereka rasakan.
“Minami chan,”
Minami menoleh ke arah Tommy. Ia merasa agak janggal dengan sebutan ‘chan’ itu. Bagi orang Jepang, sebutan ‘chan’ hanya bagi orang dekat yang disayang. Seperti keluarga, sahabat, atau kekasih. “Ya?”
“Ada satu kata yang sudah aku tahu dari dulu sebelum kamu ajari aku,” lanjut Tommy.
“Oh ya? Apa tuh?” tanya Minami penasaran.
“AISHITERU,” jawab Tommy.
“Oh,” kata Minami sambil mengangguk-angguk. “Apa?” tiba-tiba ia tersadar bahwa kata itu tidak hanya sekedar Tommy katakan begitu saja.
“Minami chan, aishiteru,” kata Tommy sekali lagi.
Minami terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lautan luas kemudian tersenyum lebar. “Aku juga, Tommy,” sahutnya. “Aishiteru.”
*********************************************************************
“Gitu Tas ceritanya,” Minami meneguk kopinya yang terakhir kali. “Dan kita pacaran deh.”
Tasya pun tertawa dan terkagum. “Lo sama kisah cinta lo keren banget, kaya film,” katanya. “Terus, terus, gimana akhirnya sama papanya, sama mamanya yang jutek itu?”
*********************************************************************
Besoknya, Tommy dan Minami pergi ke Bandara Ahmad Yani untuk menjemput mama Tommy dan Naka yang jam dua siang ini pulang dari Jakarta.
Mereka pun menunggu di dekat pintu menuju pesawat. Dan tak lama, mama Tommy muncul dengan menggendong Naka. Dan juga seorang pria paruh baya di belakang mereka.
“Mi, itu papaku,” tangan kiri Tommy menggenggam erat tangan Minami dan tangan kanannya menunjuk kepada pria itu.
“Beneran?” mendengarnya, wajah Minami berbinar.
Mereka pun akhirnya telah berada di depan Tommy dan Minami.
“Otousan,” Tommy pun memeluk papanya, begitu pula sebaliknya.
Air mata pun jatuh membasahi pipi pria itu. “Maafkan papa ya sudah menyusahkanmu,” katanya dengan logat Jepang yang begitu kental.
Tommy menggeleng. “Nggak pa, papa nggak menyusahkan aku,” isaknya. “Dengan kepulangan papa aja, itu udah cukup bagiku.”
“Kamu nggak perlu untuk bisa bahasa Jepang, ataupun harus bekerja disana,” lanjut pria itu. “Itu hanya keegoisan papa yang tidak seharusnya papa lakukan. Tinggal di Indonesia saja bersama papa, mama dan Naka. Kita harus menjadi keluarga yang paling bahagia. Papa berjanji.”
Mama Tommy pun tersenyum lebar melihat pemandangan yang jauh lebih indah dari hamparan laut yang Minami lihat dari atas rumah Tommy. Pemandangan antara ayah dan anak yang saling mengasihi.
Tommy melepaskan pelukannya dari papanya. Ia pun menghapus air matanya dan mengalihkan pandangannya pada Minami.
“Pa, aku ingin memperkenalkan seseorang,” kata Tommy sambil menarik Minami untuk mendekat. “Mama pasti sudah tahu dia. Ini Minami.”
“Watashi wa Minami desu. Douzo yoroshiku,” Minami membungkuk layaknya orang Jepang saat memberi hormat pada orang lain.
Pria itu pun tersenyum lebar.
“Dia ini pacarku, Pa, Ma,” lanjut Tommy.
“Pa, Mama nggak ragu untuk terima Minami jadi menantu kita,” sergah mama Tommy. “Mama sudah mempercayai dia seperti anak Mama sendiri. Jadi Papa juga harus percaya ya.”
“Papa bisa lihat dari cara dia bicara kok,” tambah pria itu.
*********************************************************************
Tasya tertawa puas. “Hmm, bentar lagi ada yang mau dilamar nih,” katanya.
Minami tersenyum lebar. “Eh, Tas, maaf ya aku nggak bisa anterin kamu pulang ke rumah hari ini,” katanya.
“Kenapa?” tanya Tasya.
“Aku udah dijemput tuh,”
Seorang pemuda yang tampan dan tinggi datang dari kejauhan dan berjalan menuju ke tempat dimana Minami dan Tasya duduk.
“Sudah selesai?” kata pemuda itu saat telah berada dekat dengan mereka.
Minami mengangguk. Sementara Tasya hanya terpesona melihat Tommy yang mengenggam erat tangan Minami.
“Aku pulang dulu ya, Tas,” kata Minami sambil melambai. “Bye.”


                                                ~ The End ~